Dalih

Seorang hamba Tuhan membatalkan pelayanan firman dengan dalih ia harus merawat dan mendampingi istrinya yang terkena kanker. Padahal, alasan yang sesungguhnya karena ia marah dan kecewa pada Tuhan. Ia memberikan dalih yang tampak rohani dan baik, padahal tidak demikian alasan yang sesungguhnya.

Ananias dan Safira menjual sebidang tanah. Mereka menahan sebagian dari hasil penjualan itu dan sebagian lain dibawa dan diletakkan di depan kaki para rasul. Mereka ingin mendapat citra “murah hati” di hadapan manusia. Petrus menegor Ananias, “Mengapa hatimu dikuasai Iblis, sehingga engkau mendustai Roh Kudus dan menahan sebagian dari hasil penjualan tanah itu? Selama tanah itu tidak dijual, itu tetap kepunyaanmu dan setelah dijual hasilnya tetap dalam kuasamu? Engkau bukan mendustai manusia tetapi mendustai Allah.” (ay. 2-4).

Kita kadang malu mengakui alasan yang tidak baik dan tidak mulia dari tindakan kita. Kita mencari dalih yang tampak rohani, agar mendapatkan penghormatan manusia. Kita bisa mengelabui manusia tetapi kita tidak bisa mengelabui Tuhan. Dia tahu hati dan motivasi yang sesungguhnya.

Daud berpesan agar Salomo mengenal Allah dan beribadah kepada-Nya dengan tulus ikhlas dan rela hati sebab Tuhan menyelidiki hati dan mengerti segala niat dan cita-cita (1Taw. 28:9). Kitab Amsal menegaskan, masakan Dia yang menguji hati tidak tahu yang sebenarnya dan Dia yang menjaga jiwa tidak mengetahuinya dan membalas manusia menurut perbuatannya (Ams. 24:12). –IN/www.renunganharian.net

KITA TIDAK BISA MENGELABUI TUHAN;
DIA TAHU MOTIVASI KITA YANG SESUNGGUHNYA.