Citra Diri yang Jujur

Demi sebuah ambisi, tiba-tiba ia bisa berubah menjadi pribadi yang begitu peduli dan dermawan kepada orang lain. Dia yang dulunya pelit, tiba-tiba “rela” turun ke kampung-kampung kumuh, membagi ini itu, mencoba bersahabat dengan masyarakat. Tujuannya tidak lain hanyalah agar dirinya dinilai baik oleh orang-orang, meski semua itu dilakukannya dalam kepalsuan.

Bagaimana dalam gereja Tuhan? Bukankah kita sering mendapati seseorang yang dengan bangga menceritakan betapa tingginya tingkat pendidikannya atau begitu banyaknya pelayanan yang telah dilakukannya. Apa tujuan semua ini? Membangun citra diri yang baik di mata jemaat. Sangat jarang kita mendengar atau melihat orang yang tulus mengakui masa lalunya yang begitu buruk. Rasanya tidak banyak orang yang melakukannya karena risiko penolakan sangat mungkin terjadi.

Mari belajar dari Rasul Paulus. Sekalipun ada alasan baginya untuk berbangga diri, tetapi ia tidak pernah melakukannya. Ia sadar siapa dirinya di hadapan Tuhan. Ia tidak pernah membangun citra dirinya dengan menunjukkan kehebatan dirinya. Sebaliknya, di hadapan banyak orang justru ia jujur mengakui begitu banyak kejahatan yang telah dilakukannya, ia merasa bahwa dirinyalah yang paling berdosa dibanding semua orang. Dan ia mengakui dengan tulus bahwa hanya karena kasih karunia Tuhan sajalah sehingga ia dipercaya menjadi pelayan-Nya. Sebuah prinsip hidup yang patut untuk kita teladani. Dengan menyadari sepenuhnya siapa diri kita di hadapan Tuhan, kita akan menjadi seorang yang rendah hati untuk tidak mencari pujian dari manusia. –SYS/www.renunganharian.net

BERBAGAI KEBAIKAN YANG DILAKUKAN TANPA KEJUJURAN
PADA AKHIRNYA AKAN MENGALAMI KEHANCURAN.