Bumerang

Sekalipun terdapat bukti sejarah bahwa masyarakat kuno di India, Amerika, Mesir, dan Eropa pada zaman batu menggunakannya, namun bumerang memang lekat dengan masyarakat penduduk asli benua Australia-suku Aborigin. Alat ini mereka pakai untuk berburu dan senjata perang. Keunikannya kita tahu: alat ini dilemparkan secara memutar untuk kemudian kembali ke tangan si pelempar.

Dalam khotbah di bukit (Mat. 5-7), Tuhan Yesus menyampaikan salah satu prinsip Kerajaan Surga, terutama dalam hal berdoa, yakni prinsip yang bolehlah kita sebut kaidah bumerang. Kalau kita “melempar” doa dengan sikap dan tujuan pamer kepada manusia, yang “kembali” kepada kita ialah pujian manusia-itu saja (Mat. 6:5). Itu doa “salah lempar” namanya, ibarat melempar mutiara kepada babi (ay. 6). Yang benar, “lemparkanlah” doa kepada Bapa di surga dengan harapan akan menerima “lemparan balik” yang baik dari-Nya (ay. 11). Sebab siapa meminta, mendapat yang diminta (ay. 7).

Jaminan Yesus adalah Bapa selalu “melemparkan balik” jawaban yang baik atas doa kita-yaitu doa yang baik, yang selaras dengan hati Sang Bapa. Jadi, pertanyaannya lebih tertuju kepada kita. Sudahkah kita berdoa yang baik? Tahukah kita apa yang kita minta? Siapkah kita bertanggung jawab apabila itu diberikan kepada kita? Contoh, siapkah kita mengelola harta sesuai kehendak-Nya apabila kita meminta rejeki? Sebab, kaidah bumerang tidak akan berlaku jika si pelempar salah melempar, bukan? –PAD/www.renunganharian.net

JANGAN SELALU BERTANYA, “APAKAH TUHAN MENGABULKAN DOA SAYA?”
TETAPI BERTANYALAH PADA DIRI SENDIRI, “SUDAHKAH SAYA MENGAJUKAN
PERMINTAAN YANG BAIK?”