Bukan Perangkat Kosmetik

Pada umumnya, orang mengenal apa itu keutamaan. Keutamaan adalah semua hal baik yang seharusnya diwujudkan dalam hidup. Mengasihi sesama, menopang yang lemah, menghibur yang sedih, dan sebagainya adalah keutamaan. Bersikap jujur, selalu beriktikad baik, menjadi pembawa damai, dan sebagainya adalah keutamaan. Pendek kata, keutamaan adalah semua hal baik yang seharusnya diwujudkan dalam hidup.

Semua orang-sesuai talenta masing-masing-dipanggil untuk mewujudkan keutamaan dalam hidup. Tetapi, banyak orang melakukan keutamaan hanya ketika ada di ruang publik, ketika sesama melihat atau mengetahui. Ketika mereka tak lagi di ruang publik, dan tak satu pun melihat atau mengetahui, keutamaan segera mereka campakkan. Bagi mereka, keutamaan tak lebih dari perangkat kosmetik, yang digunakan hanya agar si pemakai terlihat elok di mata sesama; sekadar topeng, yang dikenakan hanya demi pencitraan.

Karena itulah, Tuhan Yesus berpesan, “… jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka…” (ay. 1). Pesan Tuhan amat jelas. Keutamaan, hal-hal baik yang seharusnya diwujudkan itu, memang harus direalisasikan dalam hidup. Tetapi, semua itu sama sekali bukan untuk pamer kesalehan, bukan untuk mencari nama atau membangun citra, bukan untuk mengejar pujian atau meninggikan diri, melainkan semata-mata agar keutamaan mencapai kepenuhan maknanya, yakni agar kebaikan sungguh-sungguh terwujud dalam kehidupan, hingga kehendak Tuhan menjadi kenyataan, dan nama Tuhan dimuliakan. –EE/www.renunganharian.net

SEGALA YANG BAIK HARUS DIREALISASIKAN. BUKAN UNTUK PENCITRAAN,
MELAINKAN AGAR KEBAIKAN MENCAPAI KEPENUHAN MAKNA.