Bukan Hanya Pengakuan

Seorang pemuda ateis berjalan melewati hutan. Ia bertemu pria kekar yang sedang duduk membaca buku di bawah pohon. “Apa yang kaubaca?” tanyanya. “Ini Alkitab, ” jawab pria itu. Pemuda itu tertawa. “Buku itu tidak berguna. Tuhan itu tidak ada!” Pria kekar itu menjawab, “Jika Tuhan tidak ada, aku tidak akan segan memakanmu karena dulu aku seorang kanibal!”

Banyak orang secara terang-terangan mengaku: “Aku memercayai Tuhan!” Namun, meskipun mengakui keberadaan Tuhan, sebagian orang bertindak seolah-olah di dunia ini tidak ada Tuhan. Bukannya berbuat baik, mereka lebih suka melakukan kebusukan dan kecurangan yang menjijikkan (ay. 2). Fitnah, korupsi, manipulasi, bahkan “menusuk” rekan di kanan-kiri dianggap biasa. Bukankah tindakan demikian dapat disamakan dengan kehidupan tanpa Tuhan? Firman Tuhan menyebut orang-orang yang suka melakukan kejahatan itu sebagai orang-orang yang hidup tanpa kesadaran (ay. 5). Sungguh ironis mereka tidak menyadari adanya akhir kehidupan yang menyedihkan, yang sudah menanti mereka di depan!

Kita dituntut bukan hanya mengakui keberadaan Tuhan, melainkan hidup sesuai standar Tuhan. Apalah artinya sebuah pengakuan tanpa adanya bukti meyakinkan? Iman tanpa perbuatan bahkan dikatakan mati (Yak. 2:17). Jika kita hendak menyenangkan hati Tuhan, mari membuktikannya melalui perbuatan. Allah menjanjikan keselamatan dan pemulihan bagi umat yang beriman kepada-Nya (ay. 6). –LIN/www.renunganharian.net

IMAN KEPERCAYAAN KITA KEPADA TUHAN MENJADI NYATA DI MATA DUNIA APABILA KITA MAMPU MEMBUKTIKANNYA MELALUI PERBUATAN.