Bijak dalam Mendengar

Seorang wanita mendadak murung usai bertemu dengan seorang peramal. Ia terkejut karena baru saja diramal bahwa nasibnya akan buruk. Untunglah ia segera bertemu dengan seorang hamba Tuhan yang kebetulan ada di lokasi yang sama. “Saya tak percaya nasib buruk. Percayalah nasibmu akan baik dan penuh harapan, karena firman Tuhan mengatakannya, ” ucap sang hamba Tuhan. Perkataan ini tak hanya menenangkan, tapi juga memberi semangat baru bagi wanita ini. Ia pun menyesal karena sempat bersedia diramal nasibnya oleh peramal tersebut dan berjanji tidak mengulanginya lagi.

Dalam menjalani hidup ini, kita perlu berhati-hati dalam mendengar. Terutama bila kita termasuk orang yang mudah terpengaruh oleh perkataan orang lain. Bila iman dapat timbul dari mendengar perkataan firman, maka ketakutan dan intimidasi juga dapat muncul akibat mendengar sesuatu yang negatif. Kondisi yang terakhir prinsip kerjanya mirip dengan iman, tetapi bekerja secara negatif. Materi mana yang lebih sering kita dengar, itulah yang akan mendominasi hati dan pikiran kita, yang lantas berbuah lewat ucapan dan tindakan kita (bdk. Mat. 12:34-35). Sederhananya, jangan sampai “salah mendengar” karena masa depan kita dapat menjadi taruhannya!

Tak semua hal di sekitar kita perlu didengar. Dunia ini bertebaran dengan berbagai materi, mulai dari yang positif hingga yang negatif. Namun, kitalah penentu akhirnya mengenai materi seperti apa yang perlu masuk dalam hati dan pikiran kita. Sudah bijakkah cara kita mendengar selama ini? –GHJ/www.renunganharian.net

TAK SEMUA HAL DI DUNIA INI PERLU KITA DENGAR.
TERKADANG KITA HARUS ABAIKAN!