Betapa Bahagia Dirimu

Samuel “Sam” Cawthorn, motivator bertangan satu dari Australia itu, berkata, “Janganlah mencemburui kebahagiaan orang lain, sebab kamu sungguh tidak tahu apa-apa tentang semua yang telah ia jalani.” Ia benar. Manusia itu beragam dimensi. Bertumpuk pengalaman. Berlapis pergumulan. Tak mungkin kita pahami seutuhnya. Sudut pandang kita terbatas. Terlalu banyak segi yang tidak kita kenali tentangnya.

Ketika sedang mendengar Yesus berkata-kata dengan hikmat dan kuasa yang begitu memesona, seorang perempuan tiba-tiba menyeletuk karena terusik oleh lamunannya akan betapa bahagia perempuan yang menjadi ibu-Nya (ay. 27). Padahal, pahamkah ia bagaimana pergumulan Maria kala mengandung dan melahirkan bayi Yesus? Di manakah dirinya ketika Maria terpaksa mengungsi ke Mesir sebab Herodes hendak membunuh Bayinya? Tahukah perempuan itu kesulitan Maria memahami pikiran dan tindakan Putranya yang adalah Anak Allah itu? Tidak heran Yesus meluruskan kembali fokus perempuan itu dari lamunannya. Fokus pada perkataan-Nya agar ditanggapi dengan benar (ay. 28).

Harus diakui, kita sering terganggu oleh lamunan akan kebahagiaan orang lain. Betapa bahagianya si dia karena punya ini dan punya itu, atau bisa begini dan begitu. Padahal, andaikan kita diminta bertukar posisi sepenuhnya, belum tentu kita mau atau sanggup. Sebab yang kita cemburui hanya bagian “enak”-nya. Jadi, daripada menghabiskan waktu dengan lamunan tidak bermutu lebih baik kita menjadi diri sendiri dan mengoptimalkan yang ada pada diri sendiri, bukan? –PAD/www.renunganharian.net

KEBAHAGIAAN KITA TIDAK BERADA DI TEMPAT ORANG LAIN BERADA
MELAINKAN DEKAT DI HATI KITA SENDIRI.