Bertekun dalam Kasih Karunia-Nya

Seorang wanita yang berprofesi sebagai penjual bunga untuk keperluan ziarah, mengumpulkan uang selama 30 tahun supaya dapat mewujudkan keinginannya untuk beribadah ke suatu tempat. Menariknya, wanita ini mulai menabung saat berusia 65 tahun, dengan menyisihkan sebagian dari hasil jualannya. “Setelah tanggung jawab saya selesai, barulah saya berpikir bahwa ini saatnya untuk fokus beribadah sekalipun saya harus menabung selama 30 tahun, ” ucap wanita lansia tersebut menjelaskan alasannya menunda waktu untuk mulai menabung.

Bertekun dalam melakukan sesuatu, apalagi selama puluhan tahun, cenderung tak disukai oleh manusia zaman sekarang. Kalau bisa, sekarang ingin sesuatu, detik berikutnya terpenuhi. Padahal faktanya, ada banyak hal dalam kehidupan ini yang tak dapat dipercepat sekehendak hati kita. Misalnya, bertambahnya usia dan terbit terbenamnya matahari, keduanya tak dapat dipercepat. Masa penantian akan janji Tuhan juga bekerja menurut waktu dan cara Tuhan. Itulah yang dialami pasangan Abraham dan Sara. Mereka harus bertekun dalam menantikan penggenapan janji Allah, hingga akhirnya Ishak dilahirkan pada masa tua mereka-di mana secara logika sudah mustahil untuk melahirkan anak.

Dalam hidup ini, ketekunan tak memiliki batasan waktu. Bisa sebentar, tetapi bisa juga cukup lama. Namun, dalam ketekunan kita mengiring Tuhan dan menantikan penggenapan firman-Nya, yakinlah bahwa penantian kita takkan berakhir dengan kekecewaan (bdk. Rm. 3:3-5). Tetaplah bertekun di dalam kasih karunia-Nya! –Obaja/www.renunganharian.net

KASIH KARUNIA MEMBUAT KETEKUNAN DAN
PENANTIAN AKAN MEMUNGKINKAN UNTUK DIJALANI.