Bersyukur itu Pilihan

Teks asli Kolose 3:15b yang diterjemahkan menjadi “bersyukurlah” adalah eukharistoi ginesthe: hendaklah kamu penuh dengan rasa syukur. Jelas, bersyukur yang diperintahkan di sini bukan bersyukur yang hanya lahiriah (misalnya: menyanyikan lagu syukur tetapi dengan hati penuh amarah), melainkan bersyukur dengan segenap hati karena sungguh merasakan kasih Tuhan.

Pada kenyataannya, bersyukur atau tidak bersyukur adalah pilihan yang harus diambil lewat pergumulan yang tak selalu mudah. Untuk memilih bersyukur, orang harus berjuang agar mata hatinya melihat kasih Tuhan di balik masalah yang ada. Keputusan untuk bersyukur kadang tidak lahir spontan, tetapi melewati pergumulan yang panjang. Tetapi, ketika kita makin dekat pada Tuhan, dan menempatkan diri di bawah kehendak dan rencana-Nya telah menjadi kecondongan hati kita, ketika itulah pergumulan bisa makin ringan, hingga tindakan memilih itu bisa menjadi tindakan spontan.

Tetapi, bagaimanapun prosesnya, bersyukur adalah pilihan. Di ujung pergumulan, kita harus menentukan sikap: bersyukur, atau sebaliknya. Sebab itu, tiap saat kita harus memilih: memilih untuk lebih melihat berkat-berkat yang kita terima, atau keinginan yang belum terwujud; memilih mengagumi sisi-sisi indah kehidupan, atau tenggelam pada hal-hal buruk yang terjadi; memilih terpesona pada hal-hal sederhana, atau menunggu sesuatu yang besar dan heboh; memilih bersyukur pada Tuhan tiap hari, atau mengeluh tak kunjung henti. Dan, Alkitab berpesan: Bersyukurlah. –EE/www.renunganharian.net

RASA SYUKUR ADALAH BUNGA TERINDAH YANG MEMBUNCAH DARI JIWA.
-HENRY WARD BEECHER