Berpikir Positif

Hari itu Yesus bertemu seorang buta sejak lahirnya. Murid-murid lalu bertanya, siapa gerangan yang berdosa, dirinya atau orang tuanya, sehingga ia terlahir demikian (ay. 1-2). Yesus menegaskan bahwa kondisi itu bukan disebabkan dosa, melainkan karena pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dirinya (ay. 3).

Murid-murid memandang kebutaan sebagai akibat dosa. Kita pun sering berpikir demikian terhadap peristiwa buruk yang terjadi. Tidak heran kalau kemudian muncul perasaan bersalah, tudingan, bahkan penghakiman. Yesus tidak berpikir demikian! Menurut Yesus, kondisi si buta justru merupakan sarana untuk menyatakan pekerjaan Allah. Yesus tentu tidak asal berbicara. Sebaliknya, Dia mampu membuktikan perkataan-Nya. Segera setelah itu Yesus meludah, mengaduk ludah-Nya dengan tanah, mengoleskan pada mata si buta, dan memerintahkannya pergi membasuh diri di kolam Siloam. Terhadap perintah Yesus, ia taat sehingga sekembalinya dari kolam itu, matanya melek kembali (ay. 6-7).

Ketika dihadapkan pada situasi buruk, pikiran manusia kita cenderung terprogram untuk menjadi negatif. Faktanya, Yesus mampu mengubah ratapan menjadi tarian, penderitaan menjadi sukacita, dan kemalangan menjadi kebahagiaan. Jika saat ini kita dihadapkan pada situasi demikian, jangan takut atau tawar hati. Jumpai Dia di dalam doa! Ingatlah, Allah tidak merancangkan penderitaan. Sebaliknya, rancangan-Nya adalah damai sejahtera dan kehidupan penuh harapan. –LIN/www.renunganharian.net

BERPIKIR POSITIF DALAM SETIAP KEADAAN, MEMAMPUKAN KITA
MENSYUKURI HARI INI DAN MENGHADAPI HARI ESOK.