Berkat dalam “Tidak”-Nya

Saat diminta untuk bersaksi tentang berkat Tuhan, apa yang kita tuturkan? Kita kerap kali menghubungkan kebaikan Tuhan dengan pemberian-Nya yang baik untuk kita. Misalnya kekayaan, kesehatan, naik jabatan, dan sebagainya. Berkat Tuhan tak selalu identik dengan materi dan hal-hal lain yang kita dapatkan. Ketika doa tak dikabulkan dan orang yang kita kasihi meninggal, kita sering merasa Tuhan tidak mengasihi kita. Kerap kali kita tak menyadari ada berkat dalam “tidak”-Nya.

Kisah hidup Yusuf awalnya merupakan tragedi. Bayangkan saja, Yusuf dijual oleh saudara-saudaranya sendiri, bahkan sebelumnya ia nyaris dibunuh mereka (Kej. 37). Saudara-saudaranya tidak mengasihi Yusuf. Yusuf dibuang, dilupakan, dan disingkirkan. Meskipun demikian, Yusuf tetap merasakan berkat dalam “tidak”-Nya. Semua kejahatan saudara-saudara Yusuf tak membuat Yusuf lupa bahwa Tuhan masih menyertainya dan memakai kejadian buruk ini untuk memelihara hidup Yusuf dan bangsa Israel pada masa kelaparan (ay. 20). Betapa Tuhan mengasihi anak-anak-Nya!

Bagaimana respons kita terhadap jawaban “tidak” dari Tuhan? Masihkah kita memelihara persekutuan pribadi dengan Tuhan atau semakin menjauh dari-Nya? Jangan pernah menyalahkan Tuhan atas semua kejadian buruk yang menimpa kita. Walaupun sulit dipahami, percayalah ada berkat dalam “tidak”-Nya. Berserahlah penuh kepada Tuhan. –PDS/www.renunganharian.net

TUHAN MASIH MERAJUT RENCANA INDAH DI BALIK SETIAP “TIDAK” YANG KITA ALAMI.
MARI TERUS BELAJAR UNTUK SETIA DAN BERIMAN PENUH KEPADA-NYA.