Berhala

Aldi rajin berbakti semenjak ia mendapat pacar Luna yang seorang aktivis gereja. Brenda giat mengikuti pelayanan misi yang dipimpin pendeta Anu karena beliau adalah pemimpin rohani favorit sekaligus idolanya. Cindy tekun melayani karena dorongan Ibunya yang sangat ia hormati. Pertanyaannya: masihkah mereka akan segiat dan setekun itu andaikan tanpa kehadiran orang-orang dekat yang sangat berpengaruh itu?

Sungguh mengherankan, umat Israel kala itu! Sesudah semua mukjizat dan penyertaan Tuhan yang ajaib dalam perjalanan keluar dari Mesir, mereka membuat dan menyembah patung anak lembu emas (ay. 19). Mereka mendirikan patung berhala untuk disembah. Namun, jika dicermati alasan di balik pemberhalaan itu-terkejutlah kita! Alasan mereka membuat patung itu karena tidak tahan menunggu Musa (ay. 1, 23). Mereka gelisah dan tidak dapat membayangkan keberadaannya tanpa dia. Musa adalah segalanya, mereka amat bergantung padanya. Jadi sebenarnya siapa yang mereka berhalakan? Musa!

Berhala bukan pertama-tama wujud patung atau bendanya, melainkan kebergantungan kita secara batiniah kepada apa (siapa)- melebihi Tuhan. Tokoh idola, pemimpin berkharisma, pembimbing rohani, kekasih, sahabat-bahkan pasangan hidup kita pun- berpotensi menjadi berhala apabila kita tidak waspada. Dan, jika suatu waktu kita dikecewakan, dampaknya bisa seperti pendulum yang berayun ke sisi sebaliknya. Mari, kita memetik pelajaran dari bangsa Israel. –PAD/www.renunganharian.net

KEBERGANTUNGAN YANG BERLEBIHAN PADA SESUATU (SESEORANG)
SELALU BERPOTENSI UNTUK MELAHIRKAN PEMBERHALAAN.