Belajar Mendengar

Telinga untuk mendengar. Semua orang tahu itu. Banyak juga yang menafsirkan bahwa Tuhan memberi kita dua telinga dan satu mulut, agar kita lebih banyak mendengar daripada berbicara. Masalahnya, tidak semua orang otomatis punya keterampilan mendengar. Kadang kita terlihat sedang mendengarkan, namun pikiran kita mengembara ke dunia lain. Banyak orang tidak dapat mengulangi atau meringkaskan inti dari sesuatu yang baru saja mereka dengar. Banyak juga yang mendengarkan hanya untuk berbasa-basi, agar dapat sekadar membalas percakapan.

Bangsa Israel sering kali gagal dalam mendengarkan firman Tuhan. Sekalipun Dia telah berulang kali mengutus nabi-nabi, mereka tetap saja abai. Mereka lebih peduli dengan diri sendiri dan berhala-berhala mereka. Mereka mengabaikan teguran dan peringatan. Maka hidup mereka pun melenceng dari firman Tuhan. Akibatnya, Allah mendisiplin mereka. Dia mengizinkan bangsa Babel menaklukkan mereka, mengangkut mereka sebagai tawanan ke Babel.

Tuhan Yesus juga kerap berkata, “Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar!” Saat Dia mengajar, banyak orang mendengarkan-Nya, namun tidak sungguh-sungguh berusaha memahami. Akibatnya, mereka tidak memperoleh apa-apa. Kiranya kita belajar dari kesalahan dan kegagalan mereka. Mari mengasah keterampilan kita dalam mendengar. Mari belajar menyimak. Memberi hati dan memusatkan pikiran. Rela ditegur dan dikoreksi oleh firman Tuhan. Itulah yang membawa pembaruan dalam hidup kita, agar menjadi pribadi yang dikehendaki Allah. –HT/www.renunganharian.net

TELINGA YANG SUNGGUH MENDENGAR
AKAN MENUNTUN KITA PADA JALAN TUHAN YANG BENAR.