Belajar dari Elisa

Pasti kita kesal bila ada orang yang menunda-nunda suatu pekerjaan atau tugas yang dibebankan kepadanya. Lalu, bagaimana dengan diri kita sendiri? Apakah kita juga sering menunda untuk melakukan apa yang Tuhan perintahkan kepada kita? Apakah kita masih berpikir, “Ah, masih punya waktu! Tidak perlu sekarang! Nanti saja!”?

Elia adalah seorang nabi Tuhan yang bekerja melayani di wilayah Israel untuk menyampaikan suara Tuhan kepada bangsa Israel. Pada bagian kitab 1 Raja-raja ini, dicatat bagaimana Elia berjumpa dengan Elisa yang sedang bekerja di ladang miliknya. Penulis kitab ini tidak mencatat peristiwa ini panjang lebar. Penulis hanya mencatat bagaimana Elia melempar jubahnya kepada Elisa yang memahaminya sebagai sebuah ajakan untuk segera mengikuti Elia. Elisa segera meninggalkan apa yang sedang dikerjakannya saat itu dan segera berlari mengikuti Elia. Spontan, segera dan ia hanya minta waktu berpamitan dengan orang tuanya dan orang-orang yang bekerja bersamanya. Setelah itu, dicatat oleh penulis kitab 1 Raja-raja, Elisa menjadi pelayan Elia dan mengikuti ke mana saja Elia pergi.

Spontanitas seperti Elisa menjadi cermin untuk kita dapat merefleksikan seperti apakah respons dan tanggapan kita terhadap panggilan Tuhan untuk melayani-Nya dan sesama manusia. Apakah respons yang seperti Elisa, yaitu spontan, tanggap, penuh sukacita, rela berkorban bahkan dengan penuh rasa syukur? Ataukah respons kita adalah pura-pura tidak dengar, pura-pura tidak tahu, enggan, menolak atau menerima tetapi dengan bersungut-sungut? –AAS/www.renunganharian.net

PANGGILAN TUHAN UNTUK MELAYANI ADALAH KASIH KARUNIA
YANG HARUS DISAMBUT DENGAN SPONTAN, PENUH SUKACITA DAN RASA SYUKUR.