Belajar Berbesar Hati

Paulus pernah bersitegang dengan jemaat di Korintus. Hal itu terjadi karena ia dengan terang-terangan menegur dosa-dosa yang dilakukan jemaat. Hanya masalahnya, sebagian jemaat tidak terbuka hatinya, tidak bisa menerima teguran itu, dan merasa sakit hati. Buntutnya, mereka bersekutu dengan guru-guru palsu untuk menolak kerasulan Paulus (2Kor. 6:11-13).

Bagaimana reaksi Paulus? Ketika melihat penolakan jemaat, Paulus memberikan respons yang menunjukkan kualitas karakter dan kedewasaan rohaninya. Pertama, ia menyatakan bahwa apa pun yang terjadi, kasihnya kepada jemaat sama sekali tidak berubah, malah ia menyatakan ingin sehidup semati dengan jemaat (ay. 3). Kedua, Paulus berusaha menghibur jemaat yang terluka itu dengan mengatakan bahwa rasa sakit hati tersebut baik adanya karena akan membawa mereka kembali kepada kebenaran (ay. 9). Dan ketiga, ia mengutus Titus untuk mengklarifikasi maksud dari teguran yang keras itu (ay. 6). Kebesaran hati Paulus ini nyatanya berbuah manis. Titus melaporkan bahwa jemaat mengalami perubahan positif setelah membaca surat Paulus (ay. 13-16).

Dari kebenaran itu kita belajar: Teguran dalam kasih yang kita nyatakan bisa saja disalahpahami dan menimbulkan konflik. Namun, konflik tersebut bisa jadi dipakai Tuhan untuk mengasah hati kita, terutama dalam hal kebesaran hati, untuk bersedia merendahkan hati dan mengampuni. Melalui konflik, Tuhan sedang meningkatkan kualitas karakter dan kedewasaan kita. –SYS/www.renunganharian.net

KUALITAS KARAKTER DAN KEDEWASAAN KITA TERUJI PADA SAAT TERJADI KETEGANGAN DALAM HUBUNGAN KITA DENGAN SESAMA.