Ayah sebagai Pemimpin

Sebagai abdi Musa, Yosua muda telah dikenal sebagai sosok yang taat dan takut akan Allah dalam menjalankan tugasnya. Ia hidup beriman dan bergantung sepenuhnya pada kehendak Tuhan. Ia mempertahankan prinsipnya ini terus melekat dalam dirinya sampai akhir hidupnya. Awal kepemimpinannya dimulai dengan menaati perintah Tuhan, ia tidak pernah menyimpang dari-Nya, sehingga Allah membuatnya selalu berhasil.

Di akhir kepemimpinannya, ia memperbarui komitmen bangsa Israel untuk tetap beribadah dan takut akan Tuhan sepanjang hidup mereka. Dengan mantap ia bersaksi bahwa sepanjang hidupnya ia akan tetap mengasihi Tuhan. Yosua tetap bersemangat mendorong bangsanya untuk hidup beribadah dan menaati perintah Tuhan. Sikap ini membuktikan bahwa Yosua adalah sosok pemimpin yang terus-menerus memperhatikan mereka yang dipimpinnya. Ia tidak mencari kesenangan bagi diri sendiri, tapi kesejahteraan bangsa Israel. Sepanjang hidup, ia abdikan untuk menjaga dan mengingatkan Israel untuk tetap di jalan Tuhan. Yosua tidak saja sukses sebagai pemimpin umat, namun ia juga adalah seorang pemimpin yang sukses bagi keluarganya. Ia bersaksi bahwa dirinya dan keluarganya akan tetap beribadah dan melayani Tuhan apa pun situasinya.

Seorang pemimpin Kristen yang baik tentu adalah seorang ayah yang baik bagi keluarganya. Ia tidak sekadar berhasil menjadi pendorong yang baik bagi jemaat yang dilayaninya, tetapi ia juga akan mendorong dan menjaga seluruh keluarganya untuk tetap mengasihi dan melayani Tuhan hingga akhir hidupnya. Apakah kita adalah pemimpin yang demikian? –SYS/www.renunganharian.net

JIKA KITA GAGAL SEBAGAI PEMIMPIN DIRI SENDIRI DAN KELUARGA,
AKANKAH KITA BERHASIL MEMIMPIN SEBUAH KOMUNITAS YANG LEBIH BESAR?