Api dan Palu

Api berguna untuk menghangatkan, memberi cahaya, juga memasak. Api menolong manusia dari serangan binatang buas. Api membentuk besi menjadi pisau. Api mengeraskan tanah liat dan memurnikan emas. Api juga melelehkan lilin, membakar habis ranting kering. Api menjadi sahabat yang berguna bagi hidup manusia, namun dapat pula menjadi musuh yang merupakan sumber bahaya. Begitu pula dengan palu: dapat menjadi alat yang berguna sekaligus dapat mencelakai.

Tuhan mengibaratkan Firman-Nya laksana api. Dalam Perjanjian Lama, Hukum Taurat ibarat api yang menyala. Dalam Perjanjian Baru, Yesus mengatakan bahwa Ia datang untuk melemparkan api ke bumi (Luk. 12:49). Api Tuhan ini akan menimbulkan dampak yang berbeda bagi masing-masing pribadi, sebagaimana api memberi dampak yang berbeda terhadap benda yang dibakarnya. Firman Tuhan dapat memurnikan kehidupan, namun dapat pula menghanguskan dosa. Semua tergantung diri kita sendiri. Ketika api Firman Tuhan tidak dapat melelehkan hati: membawa kita mengalami pemurnian dalam pertobatan, maka api Firman Tuhan berpotensi menghancurkan diri kita.

Allah tidak mungkin dapat diperdaya oleh manusia. Setiap motivasi hidup umat akan teruji melalui “api-Nya”. Betapa pun cerdiknya manusia dalam mengupayakan diri untuk menyembunyikan maksud jahatnya, tak mungkin semua itu luput dari pandangan Allah. Manusia tidak mungkin bisa memperdaya penghakiman Allah. Ketika “api” Tuhan datang, manakah yang mungkin menimpa kita: menjadi murni atau hangus terbakar? –EBL/www.renunganharian.net

KUALITAS DIRI KITA TERUJI KETIKA API TUHAN MEMURNIKANNYA.