Anjing Hidup vs Singa Mati

Saya mengenal seorang lanjut usia yang hidup seorang diri, tetapi ditemani seekor anjing pudel yang lucu. Beberapa kali saat ke sana, saya menyaksikan bagaimana anjing pudel itu sedang bercengkerama akrab dengan pemiliknya. Dalam beberapa kesempatan saat mengobrol, beliau mengakui bahwa anjing kecilnya dapat menghilangkan kesepian sekaligus menghibur dirinya saat sedang lelah atau penat setelah menjalani aktivitas hariannya.

Melihat relasi antara anjing pudel dengan pemiliknya, saya teringat akan perkataan Pengkhotbah: “Anjing yang hidup lebih baik (jauh lebih berguna) dari pada singa yang mati.” Jika masih hidup, mungkin keberadaan singa akan lebih berguna daripada anjing dalam beberapa hal, tetapi karena sudah mati maka sia-sialah keberadaan hewan yang berstatus sebagai “si raja hutan” tersebut. Kebenaran ini seharusnya dapat mengobarkan semangat kita untuk menjadi pribadi yang berguna, terutama bagi keluarga dan orang-orang di sekeliling kita. Terlebih jika lewat hidup kita, orang lain dapat diingatkan untuk terus berharap kepada Tuhan di tengah situasi sukar atau pergumulan hidup yang mereka alami.

Jadi, apakah hari ini kita merasa diri kita tak terlalu berguna? Cobalah pikirkan hal-hal sederhana tetapi dapat kita lakukan dengan baik untuk membantu orang lain-akan lebih bagus jika kita telah melakukannya. Ingatlah selalu akan perbandingan dua hewan pada renungan ini dan berdoalah agar Tuhan dapat memakai hidup kita untuk menebar kebaikan dan bermanfaat bagi orang lain! –GHJ/www.renunganharian.net

HIDUP BERMANFAAT BERKAITAN DENGAN KUALITAS HIDUP,
BUKAN BERAPA LAMA KITA HIDUP!