Air Mata Ditampung-Nya

Dalam kitab 2 Tawarikh 33 kita membaca kisah tentang anak Raja Hizkia yang bernama Manasye. Anak ini lahir dalam masa perpanjangan umur Hizkia selama 15 tahun. Hanya saja anak ini tidak mengikuti jejak ayahnya yang saleh, karena pada kenyataannya Manasye adalah raja Yehuda yang paling jahat.

Manasye berbuat sesuka hatinya ketika ia berkuasa. Namun satu hari datanglah pasukan Asyur dari utara menghancurkan semua kejayaan Manasye. Ia dibelenggu dan dibawa bagaikan hewan ke Babel. Di dalam penderitaan itulah Manasye merendahkan dirinya amat sangat di hadapan TUHAN. Istilah “merendahkan diri” ini diartikan sebagai: Seruan yang disertai jerit tangis yang mendalam (ay. 12). TUHAN mendengar seruan dan tangisan Manasye. Ia pun dibebaskan bahkan dipulihkan ke dalam kedudukannya yang semula dan ia pun mengakui Tuhan Allah sajalah yang patut ia sembah.

TUHAN acap kali mengizinkan datangnya badai menimpa sebagai “shock therapy” yang bertujuan menyadarkan kita pada segala kejahatan kita. Namun Tuhan memperhatikan derita kita. Seruan hati dan tangisan penyesalan akan kesalahan-kesalahan kita diperhatikan-Nya. Ada kekuatan dibalik tetesan air mata kita di hadapan Tuhan! Air mata yang membawa pertobatan dan pemulihan. Setiap tetesan air mata kita ditampung-Nya! Dia adalah Bapa yang baik yang menyediakan pengampunan dan melupakan segala pelanggaran-pelanggaran kita. Dengan kasih-Nya, Ia memulihkan keadaan kita. –SYS/www.renunganharian.net

ADA KUASA PERTOBATAN DAN PEMULIHAN
DI SETIAP TETESAN AIR MATA KITA DI HADAPAN TUHAN.