Tersungkur Untuk Bersyukur

Saya bisa membayangkan penderitaan orang yang sakit kusta. Karena di masa kecil sewaktu saya tinggal dan sekolah di pedesaan, saya menderita sakit kulit. (bhs. Jawa: gudhigen). Teman-teman tidak mau bermain bersama saya, bahkan menjauh karena mereka takut ketularan. Saya sedih saat itu karena tidak bisa bermain. Sudah menderita gatal yang luar biasa, dikucilkan pula dari pergaulan.

Itulah yang dirasakan oleh orang yang mengidap sakit kusta di jaman Yesus. Sudah menderita secara fisik, ia juga menderita secara batin. Mereka dianggap najis dan dikucilkan dari pergaulan bahkan dari keluarganya. Oleh karena itu mereka sangat bersukacita ketika disembuhkan Yesus. Mereka segera melakukan perintah Yesus untuk menghadap imam, karena imamlah yang mempunyai wewenang untuk menentukan seseorang telah sembuh dari sakit kusta. Akan tetapi satu orang Samaria yang disembuhkan Yesus lebih memprioritaskan untuk kembali kepada-Nya. Yang dilakukannya adalah memuliakan Allah dengan suara nyaring, tersungkur di depan kaki Yesus untuk mengucap syukur kepada-Nya.

Marilah kita melihat perjalanan kehidupan kita. Betapa kita telah diberkati Tuhan sedemikian rupa. Seperti apa pun kondisi kehidupan kita, Tuhan tetap menyertai dan memelihara kita. Sudahkah kita memuliakan Allah? Sudahkah kita berserah dan mengakui kedaulatan Allah akan hidup kita? Sudahkah kita bersyukur kepada-Nya? Bersyukur tidak hanya dengan perkataan saja, tetapi dengan melakukan kehendak-Nya agar nama-Nya dipermuliakan di muka bumi.

Selamat memuliakan nama-Nya! –ENO/www.renunganharian.net

SIKAP BERSYUKUR ADALAH SIKAP YANG PENTING DAN DOMINAN
MENGUBAH KEHIDUPAN.-ZIG ZIGLAR