Tak Harap Kembali

Lagu “Kasih Ibu” karya S.M. Mochtar yang sering kita dengar bertutur tentang kasih seorang ibu yang begitu mulia. Kasih itu digambarkan laksana mentari yang memberikan kehangatan kepada anak-anak yang berada di bawah naungannya. Ada janji yang tidak terucap di sana bahwa ia tak lekang oleh panas, tak lapuk oleh hujan. Kasih ibu akan senantiasa hadir, bahkan dalam ingatan anak-anaknya kelak. Kenangan akan kasih yang tak berpamrih. Kasih yang hanya mengenal kata memberi.

Demikian pula halnya dengan kehadiran Hana dalam kehidupan Samuel. Jejak kasih seorang ibu bisa kita temukan dalam diri Samuel, bahkan sejak ia hadir sebagai jawaban atas doa-doa Hana. Doa yang lahir dari perjuangan panjang seorang ibu memohon belas kasihan Tuhan untuk membuka kandungannya (ay. 19, 20).

Sebagai seorang ibu, Hana bijak dalam menunaikan tugas mulianya. Ia meminta dan menyerahkan putranya kepada tangan yang tepat, yaitu Sang Mentari Sejati (Mzm. 84:12). Bahkan, keputusan Hana menyerahkan Samuel ke dalam tangan Tuhan menunjukkan langkah iman seorang ibu. Hana menyadari keterbatasan dirinya. Ia hanyalah cermin yang merefleksikan kehangatan kasih Tuhan. Keputusan Hana berbuah manis. Samuel pun tumbuh menjadi pribadi yang berkenan di hati Tuhan dan sesamanya.

Samuel lahir dari rahim seorang perempuan yang luar biasa. Perempuan yang mengenal benar arti menjadi seorang ibu. –EML/www.renunganharian.net

KASIH SEORANG IBU SEJATI HANYA MENGENAL KATA MEMBERI
TANPA EMBEL-EMBEL BERHARAP KEMBALI.