Seperti Padi Organik

Ada belasan hektar sawah di Desa Rogomulyo, Kabupaten Semarang, yang diolah dengan menerapkan pola tani organik. Tidak menggunakan pupuk dan pestisida kimia, melainkan kompos alami seperti sluri atau ampas biogas. Namun, menanam padi organik tidaklah mudah. Sawah organik bisa saja tercemar air yang mengandung pupuk urea atau pestisida kimia dari sawah-sawah lain yang bukan organik.

Seperti menanam padi organik di antara sawah-sawah bukan organik, demikianlah kita orang percaya hidup di dunia ini. Seruan “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini” bukan untuk menggiring kita menjauh dari kehidupan ini. Mustahil kita hidup tanpa pernah bersentuhan dengan hal-hal duniawi. Seperti padi organik, kita memang “ditanam” Tuhan di dunia ini. Kita tidak diperintahkan untuk mengasingkan diri, memisahkan diri, atau menutup diri dari kehidupan di sekitar kita. Tuhan justru ingin kita hidup benar dan bertumbuh secara rohani di dunia seperti ini.

“Jangan menjadi serupa dengan dunia ini” mendesak kita untuk menjadi baik dan benar di mana pun kita ditempatkan Tuhan. Kita dituntut hidup kudus, beribadah mempersembahkan diri dengan tidak tercemar oleh kefasikan. Kita diminta menjadi benar seturut kehendak Tuhan, tidperbuatan ak tepercik oleh pemikiran dan yang tidak dikenan-Nya. Meskipun tidak mudah, kita harus hidup dalam kehendak Tuhan yang Maha Sempurna, dan tiada henti memperbarui akal budi kita. –ASA/www.renunganharian.net

KEBAIKAN DAN KEBENARAN ADALAH BENIH TERBAIK YANG AKAN
MEMBERIKAN HASIL TERBAIK, DI MANA PUN KITA MENANAMNYA.