Saya Cinta Engkau

Romulo Saune besar sebagai anak gembala di Pegunungan Peruvian Andes. Tuhan memimpinnya keluar dari tempat terisolasi itu sehingga menjadi ketua tim penerjemah Alkitab di Quechua.

Pada 1992 ia pergi ke Chakiqpampa, tempat kakeknya, Pendeta Justiniano Quicana, dibunuh gerilyawan komunis, Sendero Luminoso. Romulo dan timnya membawa Alkitab. Tiga belas laki-laki dan lima belas perempuan menerima Kristus di desa itu setelah Romulo berkhotbah.

Dalam perjalanan ke kota lain Romulo dan timnya dipaksa keluar dari kendaraannya oleh gerilyawan Sendero Luminoso. Romulo membagikan Injil kepada mereka dan berkata, “Tuhan mengasihi kalian.” Namun, para gerilyawan itu berkata bahwa para penginjil itu mengkhianati mereka. Mereka pun diberondong dengan senapan. Empat orang meninggal, termasuk Romulo. Sebelum meninggal dari bibir Romulo keluar perkataan, “Tuhan, saya mencintai Engkau. Yesus, saya mencintai Engkau.”

Ada risiko ditanggung para pemberita Injil. Paulus dalam segala kebesarannya juga mengalami hal serupa. Ia dijebloskan ke dalam penjara, dibelenggu, dan dianiaya. Namun, tekadnya telah bulat, mati ataupun hidup siap dihadapinya. Ia berucap, “Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.”

Akankah kita bersikap yang sama ketika mengalami hal serupa? Akankah kita tetap percaya pada Tuhan untuk mengatasi kesulitan kita? Siap sediakah kita memberitakan firman-Nya, termasuk kepada musuh kita? Cinta kita kepada-Nya akan mendorong kita begitu kuat. –PRB/www.renunganharian.net

KEKUATAN CINTA AKAN MEMBUAT ORANG MEMBERIKAN
APA PUN DALAM HIDUPNYA, BAHKAN DIRINYA SEKALIPUN.