Satu Keluarga Di Dalam Tuhan

Bicara tentang Bali, orang asing dan pendatang (dari luar Bali) begitu mudah kita temukan. Hampir di setiap sudut pulau ini, kita bisa menemukan orang asing dan pendatang. Mereka disebut orang asing dan pendatang karena mereka bukan berasal dari Bali dan bahkan kemungkinan besar tidak akan tinggal seumur hidup mereka di Bali. Gambaran diatas dapat juga diaplikasikan dalam konteks kehidupan rohani kita. Seperti yang diungkapkan oleh Daud dalam doanya. Daud berdoa mewakili umat Israel bahwa mereka sebenarnya adalah orang asing dihadapan Tuhan dan pendatang seperti nenek moyang mereka. Pengakuan Daud tersebut mengingatkan akan status mereka. Namun, berita baiknya adalah di dalam Tuhan Yesus semua pemahaman diperbaharui dan diberi makna baru.

Di dalam Tuhan kita bukan lagi orang asing dan pendatang tetapi kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah (Efesus 2:19). Di dalam kasihNya, Tuhan telah mengumpulkan dan mempersekutukan kita sebagai satu keluarga Allah untuk saling memperhatikan, mengasihi, dan mendoakan. Kita bukan lagi orang asing dan pendatang karena kita telah diterima dan dimasukkan dalam keluarga besar Allah. Tuhanlah yang menjadi Bapa kita dan kita adalah anak-anakNya. Sebagai Bapa yang baik kepada anak-anakNya, Allah bukan saja menyatukan kita sebagai satu keluarga, Ia juga telah menyiapkan di sorga tempat bagi anak-anakNya. Hal ini menegaskan tentang ikatan kekeluargaan Ilahi yang bukan saja untuk kehidupan di dunia, tetapi juga untuk kekekalan. Keyataan ini telah memberi kepada kita petunjuk bahwa kita memiliki Bapa yang sangat baik sehingga sebagai anak-anakNya kita perlu mensyukuri akan hal tersebut. Hal ini harusnya juga menolong kita untuk merefleksikan kehidupan bersama sebagai satu keluarga di dalam Tuhan. Kita perlu terus belajar hidup selayaknya kita hidup sebagai satu keluarga di dalam Tuhan.

Oleh karena itu, sebagai warga GKPB kita perlu terus mengusahakan kehidupan bersama dalam damai sejahtera baik dalam konteks kehidupan berjemaat maupun dalam ber-GKPB. Kerukunan dan keakraban perlu terus dibangun dalam kebersamaan kita. Biarlah persekutuan jemaat-jemaat di GKPB sebagai satu keluarga Allah semakin nyata terus bahu-membahu dan saling tolong-menolong dalam menghadapi setiap tantangan. Sambil juga kita terus berjalan sama dalam satu barisan dalam peziarahan iman kita sebagai gereja Tuhan. (IRHB)

 

Bacaan Alkiab: 1 Korintus 14: 26-33 ; Ayub 40: 6-41:3 , 42: 1-6

 

Doa : Terima kasih Tuhan karena kami telah disatukan dan dipersatukan menjadi satu keluarga di dalam Engkau. Amin.