Salahkah Menjadi Kaya?

Orang kadang-kadang bertanya, “Salahkah menjadi kaya? Bukankah Yesus mengatakan bahwa orang kaya sukar masuk surga?” Apabila kita tidak benar-benar memahami perkataan Yesus, kita tentu takut menjadi kaya. Yesus bukan menghendaki kita untuk tidak menjadi kaya, melainkan Dia menginginkan hati kita tidak melekat pada kekayaan.

Abraham dan Ayub merupakan contoh orang kaya yang disertai Tuhan. Hati mereka terbukti tidak terpikat pada harta kekayaan, melainkan pada Pribadi Allah. Berbeda dengan Abraham dan Ayub, orang kaya yang bertemu Yesus ini menggenggam erat kekayaannya. Terbukti, ketika Yesus memintanya untuk menjual segala miliknya, membagikannya kepada orang miskin, dan lalu datang mengikut Dia, orang itu menjadi amat sedih (ay. 22-23). Banyak sekali harta miliknya sehingga ia berat meninggalkannya. Itulah sebabnya Yesus berkata: “Alangkah sukarnya orang yang banyak harta masuk ke dalam Kerajaan Allah” (ay. 24).

Yesus tidak melarang kita menjadi kaya. Dia datang ke dunia justru agar kita memperoleh hidup dalam segala kelimpahannya (Yoh. 10:10). Tetapi ingatlah, kekayaan dapat dipakai Iblis sebagai jerat untuk memikat hati manusia. Demi mendapatkan banyak uang, seseorang dapat bekerja terlalu lama sehingga mengorbankan jam-jam doa atau waktu-waktu ibadahnya. Beberapa orang bahkan meninggalkan imannya demi menjadi kaya. Menjadi kaya tidaklah salah, tetapi hati yang dikuasai oleh kekayaan jelas tidak berkenan di hadapan Allah. –LIN/www.renunganharian.net

SEBAGAI ANAK ALLAH, HENDAKLAH KITA TIDAK TERPIKAT OLEH KEKAYAAN
DUNIAWI, TETAPI BERUSAHA UNTUK MENGEJAR KEKAYAAN SURGAWI.