Rendah Hati dan Percaya Diri

Waktu SD, saya merasa percaya diri dengan kecerdasan saya karena selalu mendapat ranking. Yusuf, anak kesayangan Yakub, juga sangat percaya diri pada masa mudanya. Ia memakai jubah maha indah dari ayahnya, dan menceritakan mimpinya yang membuat saudara-saudaranya dengki karena mereka menganggapnya sebagai tanda bahwa Yusuf akan menguasai mereka. Tak lama kemudian, Yusuf dijual oleh saudara-saudaranya. Dia dibawa ke Mesir, menjadi sukses, tapi akhirnya dimasukkan ke penjara. Namun dari sana, ia bisa bertemu Firaun. Walaupun juru minuman telah memberitahu Firaun tentang kemampuan Yusuf menafsirkan mimpi, di hadapan Firaun, Yusuf berkata: “Bukan sekali-kali aku, melainkan Allah juga yang akan memberitakan kesejahteraan kepada tuanku Firaun.”

Di sini kita melihat bahwa Yusuf sungguh telah bertumbuh dalam kematangan dan hubungannya dengan Tuhan. Jawabannya menunjukkan kombinasi karakter yang langka, yaitu kerendahan hati dan kepercayaan diri. Namun kepercayaan diri yang kali ini ia tunjukkan tidaklah sama dengan kepercayaan diri yang ia miliki saat masih muda. Melainkan, dia percaya bahwa Tuhanlah yang bekerja melalui dia, maka dia bisa. Jadi, kepercayaan diri yang dulu ia miliki sudah diganti dengan ketergantungannya pada Tuhan. Firaun, terpukau dengan kebijakan dan keyakinan Yusuf akan Allah, mengangkat Yusuf sebagai penguasa di Mesir.

Inilah sikap yang layaknya kita bawa ketika menelusuri badai hidup. “Bukan aku, melainkan Tuhan.” Dengan begitu, seperti Yusuf, kita pun dapat menjalani hidup dengan kekuatan yang baru. –EES/www.renunganharian.net

BUKAN KARENA KEBAIKAN DAN KEMAMPUANKU.
JIKA AKU BISA, ITU KARENA ANUGERAH ALLAH YANG BEKERJA DI DALAM AKU.