Pilihlah Kehidupan!

Kata sabotase berasal dari sabot-nama sandal kayu yang dulu kala dipakai oleh para buruh pabrik di Prancis. Kalau merasa jengkel, tidak puas, atau berontak kepada majikannya, mereka melemparkan bakiak itu ke mesin-mesin yang sedang berputar. Mudah ditebak akibatnya. Kacau semua. Mesin terganjal dan macet. Berhenti berfungsi. Kena sabotase!

Ketika sedang membekali umat Israel demi menyongsong babak baru kehidupan mereka di tanah Kanaan, Musa memberikan wejangan sekaligus tantangan tentang memilih kehidupan (ay. 19). Sebab sebagian besar dari kehidupan kita ditentukan oleh pilihan kita. Pilihan yang salah, buruk, dan bodoh akan berefek domino. Berkelanjutan ke mana-mana. Merusak segalanya. Menghadirkan bencana. Menjauhkan kita dari berkat dan sejahtera serta masa depan (ay. 17-18). Menghancurkan kehidupan. Musa tak jemu-jemu mengingatkan agar umat memilih kehidupan.

Salah satu cara kita memilih kehidupan ialah jangan melakukan sabotase terhadapnya. Orang muda jangan bergaul bebas yang bisa membunuh hari depanmu. Para suami atau istri hindarilah bermain api asmara liar yang akan membuat biduk rumah tanggamu terbakar. Para orangtua jangan pilih kasih dan menanam benih iri hati dan dendam yang merusak jiwa anak-anakmu. Kekasaran pada mertua mencontohkan pada anak-anak bagaimana kelak mereka menjalani hidup pernikahannya. Ingatlah, pilihan kita sekarang tidak akan berhenti sampai di sini saja. Dampaknya pasti berkelanjutan hingga ke persoalan hidup dan mati. Maka, pilihlah kehidupan! –PAD/www.renunganharian.net

PADA SEBUAH CERMIN TAMPAK WAJAH TERSENYUM BILA KITA TERSENYUM;
KEHIDUPAN AKAN BERPIHAK PADA KITA APABILA KITA MEMILIHNYA.