Penghakiman Terakhir

Kita hidup di zaman akhir. Kejahatan merajalela, seolah kebenaran dikalahkan oleh kejahatan. Anak-anak Tuhan seolah tak berdaya terhadap penganiayaan dunia ini. Penderitaan umat Tuhan berlarut-larut. Orang-orang yang membenci Kristus bisa melenggang tanpa hukuman. Benarkah Tuhan diam saja?

Dalam Wahyu 6 kita melihat bagaimana keenam meterai dibuka satu per satu oleh Anak Domba. Banyak hal dalam teks ini yang tidak bisa kita pahami secara rinci mengingat ciri kitab Wahyu yang penuh gambaran simbolis. Namun berita utamanya dapat kita pahami. Pembukaan setiap meterai diikuti dengan penghukuman sebagai wujud murka Allah. Murka Allah bukanlah pelampiasan emosi atau pembalasan dendam yang sewenang-wenang, melainkan bukti keadilan dan kekudusan-Nya. Keempat penunggang kuda dengan ciri-ciri yang berbeda menunjuk pada bentuk-bentuk hukuman yang ditimpakan ke atas bumi. Doa para martir ini menyadarkan kita bahwa pembalasan Allah yang adil akan terwujud suatu waktu nanti. Berapa lama lagi? Kita tidak tahu, tetapi Allah pasti bertindak.

Kita diingatkan untuk percaya bahwa penghukuman Allah yang adil akan ditimpakan kepada mereka yang membenci Kristus dan yang menganiaya umat-Nya. Sering kita merasa seolah-olah Allah tidak lagi memedulikan penderitaan umat-Nya sehingga kejahatan mengalahkan kebenaran. Namun firman ini memberikan kepastian bagi kita untuk tetap meyakini bahwa Allah itu setia dan adil. Yang diminta dari kita hanyalah kesetiaan dan kesabaran dalam menantikan keadilan Allah. –ENO/www.renunganharian.net

MENANTIKAN KEADILAN ALLAH
SAMBIL MEMBERLAKUKAN KEADILAN DI BUMI INI.