Pelaku Kebenaran

Masih membekas dengan jelas dalam ingatan kita kisah tentang beberapa guru yang harus mengalami nasib tragis sepuluh tahun silam. Mereka harus rela menerima ejekan, dituduh sok suci, dipaksa untuk mengundurkan diri atau diberhentikan dari profesinya, bahkan menerima serangkaian ancaman fisik. Apa salah mereka? Rupanya dengan berani mereka telah membongkar kecurangan saat ujian nasional.

Melakukan sebuah kebenaran ternyata juga bisa memberi risiko buruk bagi pelakunya. Nasib yang dialami Yohanes Pembaptis juga sangat tragis. Demi sebuah prinsip, ia harus rela menderita dalam penjara. Demi sebuah nilai kebenaran yang dijunjungnya, akhirnya ia harus mati di tangan penguasa yang lalim. Semua peristiwa tragis itu berawal karena keberaniannya dan terang-terangan menegur Herodes yang mengambil Herodias, istri saudaranya itu. Yohanes pun tahu apa risiko yang akan diterimanya karena berani menegur kesalahan penguasa. Bagi Yohanes, ia lebih rela dirinya menderita daripada menyaksikan orang lain menderita karena dosa.

Menegakkan nilai-nilai kejujuran dan kebenaran akan selalu menuntut keberanian dan pengorbanan. Bisa jadi kita akan dibenci, disingkirkan, diintimidasi, bahkan dianiaya karena kita menyatakan sebuah kebenaran kepada seseorang. Apakah kita sedang mengalaminya? Jika ya, mari mengingat apa yang pernah Yesus katakan kepada kita: “Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat” (Mat. 5:11). –SYS/www.renunganharian.net

SEORANG HAMBA KEBENARAN ADALAH SEORANG YANG SIAP UNTUK MENDERITA
SEBAGAI AKIBAT DARI KEBENARAN YANG DIHIDUPINYA.