Menipu Diri Sendiri

Pria berkursi roda itu mengikuti saya sampai di kasir. Ia memuji penampilan saya sambil membandingkan dengan dirinya sendiri-yang menurutnya buruk. Saya berkata, “Setiap orang istimewa dan kamu pasti memiliki sesuatu yang tak ada pada saya.” Sambil menggelengkan kepala, ia menjawab, “Kamu baik, saya jelek.” Segera saya menanggapi dengan bertanya, “Menurut siapa?” Shayeed-nama pria itu-menjawab, “Masyarakat bilang begitu.”

Di jemaat Korintus beredar penilaian dan komentar miring tentang Paulus. Kerasulannya digugat dengan opini dan tuduhan buruk dari kalangan tertentu. Paulus tidak goyah, karena ia tidak menggantungkan penilaian atas dirinya pada masyarakat sekitarnya, melainkan pada pandangan Tuhan (ay. 10-15, lih. 1Kor 4:1-3). Terhadap jemaat ia pun berharap hal serupa: memandang diri menurut apa kata Tuhan, yakni sebagai “bait Allah” tempat kediaman Roh-Nya (ay. 16). Lalu hidup berdasarkan itu. Supaya mereka tidak terkecoh oleh pandangan menipu, baik dari diri sendiri maupun masyarakat.

Setiap kita berharga di mata Tuhan. Bayangkan andai kata Nick Vujicic-penginjil hebat bertangan dan berkaki buntung dari Australia itu-memercayai pandangan masyarakat seperti halnya Shayeed. Tak akan ada kehidupan bermakna dan bermutu seperti yang terjadi padanya sekarang. Syukurlah ia lebih percaya pada pandangan Tuhan atas dirinya, lalu hidup dan berjuang berdasarkan keyakinan itu. Bagaimana dengan kita? –PAD/www.renunganharian.net

PENIPUAN TERBURUK IALAH PENIPUAN TERHADAP DIRI SENDIRI
YAITU KALA KITA TERPURUK AKIBAT PENILAIAN BURUK MANUSIA.