Mengutamakan Allah

Sekembalinya dari pembuangan, umat Israel berkumpul di Yerusalem untuk membangun mezbah guna mempersembahkan korban bakaran. Sekalipun mereka takut terhadap orang lain yang tinggal di sekitarnya, hati mereka tetap teguh. Mereka bersatu hati membangun mezbah di tempatnya yang semula. Mereka kemudian mempersembahkan korban bakaran kepada TUHAN pagi dan petang.

Bagi orang Israel, rasa takut kepada Tuhan tidak boleh dikalahkan oleh rasa takut terhadap orang sekitar. Mereka mengutamakan Allah sehingga apapun kesulitan yang menghadang, komitmen terhadap Allah tetap menjadi prioritas pertama. Karena itulah umat Israel rela memberikan dua kali korban bakaran, yakni pada pagi dan petang. Selain itu, mereka juga masih memberi persembahan sukarela yang dibawa setiap saat, juga korban untuk pesta suci. Ada pula hari raya Pondok Daun yang dilakukan dengan rasa syukur serta sukacita yang besar.

Bukankah kita tidak perlu lagi memberikan persembahan korban bakaran karena Tuhan Yesus telah menebus tuntas segala dosa manusia? Ya, benar bahwa orang percaya tak lagi perlu menguduskan dirinya dengan memberikan korban bakaran. Namun pengorbanan Kristus demi menebus dosa ini patut disyukuri dengan sukacita yang besar. Korban bakaran-yakni korban yang seluruhnya dibakar-melambangkan totalitas pemberian. Orang percaya yang memahami karunia Allah dalam pengorbanan Kristus pasti akan mengungkapkan syukurnya dengan cara memberi diri secara total dan utuh sebagai persembahan yang berkenan bagi Tuhan. –EBL/www.renunganharian.net

MEMPERSEMBAHKAN DIRI SECARA TOTAL KEPADA TUHAN
ADALAH UNGKAPAN SYUKUR ATAS BERKAT PENEBUSAN-NYA YANG TAK TERNILAI.