L’enfer C’est Les Autres

Dalam sebuah dramanya, “Pintu Tertutup” (Huis Clos), Sartre menahbiskan “Neraka adalah orang lain” (L’enfer, c’est les autres). Ungkapan ini dalam konteks keindonesiaan akhir-akhir ini menarik untuk direnungkan betapa sesungguhnya akar kekerasan dan konflik itu secara hakiki berangkat dari sebuah pandangan yang menempatkan orang lain di luar dirinya sebagai “neraka” sehingga kemungkinan menghadirkan hidup yang beradab menjadi kecil. Layaknya penghuni “neraka”, maka stigma yang pantas disematkan adalah sesat, tak bertuhan dan pantas dihukum.

Pada zaman Yesus, orang Yahudi menganggap orang Samaria bukan sesamanya, karena mereka dicap kafir, sehingga orang Yahudi tidak sudi bergaul dengan orang Samaria. Stigma ini sepertinya ingin dihapus oleh Yesus. Ketika di dalam perjalanan-Nya, Yesus lewat kota Sikhar, di daerah Samaria, Ia berisirahat di pinggir sumur Yakub, dan Ia minta minum kepada perempuan Samaria yang datang ke sumur itu. Yesus membuka percakapan dan menjelaskan siapa Dia sesungguhnya. Perempuan itu terbuka matanya, bahwa Yesus adalah Kristus, Sang Mesias. Perempuan itu pergi ke kota mengabarkan kabar baik itu, dan banyak orang Samaria datang kepada Yesus.

Yesus merangkul perempuan ‘”kafir” untuk dipakai-Nya menjadi rekan sekerja menyebarkan kabar keselamatan, yang menjadi misi utama-Nya datang di dunia. Marilah kita menghargai orang yang berbeda dengan kita, karena mereka adalah sesama manusia yang dikasihi Tuhan juga. Kita memang diciptakan berbeda dengan orang lain, tetapi hendaklah perbedaan kita pergunakan untuk saling melengkapi, bukan saling meniadakan. –ENO/www.renunganharian.net

BHINNEKA TUNGGAL IKA, BERBEDA-BEDA TETAPI SATU JUA, INDONESIA.