Lari dari Kenyataan

Cold Case (Kasus Peti Es). Film serial TV ini mengangkat kisah pembunuhan yang sudah lama dipetieskan. Beberapa dibuka dan diusut kembali. Para pelaku yang sebenarnya pun tertangkap setelah sempat bebas puluhan tahun. Semuanya mengaku, selama itu mereka terus dihantui kejahatan mereka. Meskipun berupaya keras untuk melupakan dan menghindar dari kenyataan itu, mereka gagal. Gelisah. Tidur tak nyenyak. Berkeringat dingin. Mimpi seram. Dan sebagainya. Ongkos lari dari kenyataan sungguh mahal.

Yunus bukan pelaku tindak kriminal. Namun, ia pun lari dari kenyataan. Tuhan mengutusnya pergi ke Niniwe, tetapi ia menghindarinya sekuat tenaga. Naik kapal, pergi ke arah berlawanan. Bahkan ia berusaha menutup mata dengan tidur. Pura-pura tak peduli sekitar. Berhasilkah ia? Sama sekali tidak! Tidurnya terganggu. Semua mata dan telunjuk jari mengarah kepadanya. Bukannya mendarat di pelabuhan Tarsis, ia malah dilempar ke tengah samudera dan ditelan ikan besar. Ongkos mahal harus dibayarnya! Tuhan mau Yunus menghadapi kenyataan.

Godaan untuk lari dari kenyataan ada di mana-mana dan menyerbu siapa saja. Jalur pelarian pun macam-macam. Mulai dari bermalas-malasan, minuman keras, pornografi, perselingkuhan, sampai dengan penggunaan narkoba. Aktivitas kerja, pelayanan, dan kehidupan rumah tangga yang penuh drama kepalsuan pun bisa menjadi pelarian. Awalnya terasa baik-baik saja, tetapi tagihan ongkosnya pasti menyusul kemudian. Maka, janganlah lari dari kenyataan. Hadapilah! Tuhan beserta kita. –PAD/www.renunganharian.net

KENYATAAN YANG DIHINDARI SAMA DENGAN UTANG BERTUMPUK
YANG PADA SAATNYA AKAN MENAGIH UNTUK DILUNASI.