Kesempurnaan

Salah satu sumber ketidakbahagiaan masa kini ialah perasaan tak dapat memenuhi standar, tuntutan dan harapan yang otomatis sudah ada di benak kita. Kita dikepung oleh perasaan bersalah, gagal, masih kurang, dan serba meleset dari target. Singkat kata, ketidaksempurnaan sungguh mengusik kita.

Menurut Paulus, sempurna itu berarti seutuhnya menyerupai Kristus (ay. 10, 21). Kapan itu terjadi? Sudah-yaitu sejak kita “ditangkap oleh Kristus Yesus” (ay. 12, 15). Kristus menudungi kita di hadapan Allah sehingga kita terlihat sempurna di mata Allah. Namun, belum juga-sebab masih akan digenapkan pada saat kedatangan-Nya kelak (ay. 12, 20-21). Artinya, kita dicengkeram oleh perbuatan Kristus dari segala sisi. Tak usah cemas. Kesempurnaan adalah pekerjaan Kristus bagi kita. Bagian kita ialah berdamai dengan segala ketidaksempurnaan, baik yang telah lewat maupun yang ada di depan mata, sambil terus bergerak ke masa depan setapak demi setapak. Yang penting arahnya satu: menuju Kristus. Sementara itu, Dia terus-menerus menjadikan karya-Nya sempurna di dalam diri kita (ay. 13-16).

Sepanjang hidup kita akan bergumul dengan ketidaksempurnaan. Tak jarang kita bodoh dan ceroboh. Badung dan tersandung. Terseret dan terpeleset. Silau dan kacau. Tak usah sok suci dan menipu diri. Tak perlu frustrasi. Rangkul saja ketidaksempurnaan itu dengan jujur sambil terus merangkul Kristus dan melangkah maju hari demi hari. Kita tidak sempurna, tetapi sedang disempurnakan terus oleh Kristus. –PAD/www.renunganharian.net

SEJAUH KITA BERJALAN DALAM RANGKULAN-NYA YANG SEMPURNA,
MENGAPA MESTI TAKUT PADA KETIDAKSEMPURNAAN?