Kebiasaan

Saya pernah mendengar bagaimana para biksu Shaolin bisa memegang panci yang berisi air mendidih dengan tangan telanjang tanpa merasa kesakitan. Bagaimana mereka bisa melakukannya? Ternyata rahasianya adalah mereka membiasakan tangan mereka untuk memegang panci panas. Awalnya tangan mereka melepuh. Tapi seiring semakin sering mereka melakukannya, saraf di tangan mereka pun mati, sehingga akhirnya setelah berkali-kali melakukannya tangan mereka seperti kebal terhadap panas.

Tubuh manusia memang memiliki mekanisme mengingat sesuatu yang dilakukan berulang kali dan menganggapnya sebagai sesuatu yang normal. Hal yang sama berlaku dalam kehidupan rohani. Ketika kita membiasakan diri melakukan suatu kebiasaan baik maka lama kelamaan kita akan terbiasa melakukannya. Begitu pula dengan kebiasaan buruk, seperti yang dikatakan Ibrani 10:25a: Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang…. Pada awalnya mereka mungkin tidak bermaksud menjauhkan diri dari pertemuan ibadah. Tapi karena mereka membiasakan diri melakukannya, hari demi hari, minggu demi minggu, sampai bulan dan akhirnya tahun, akhirnya mereka pun benar-benar menghilang dari komunitas rohaninya.

Memulai suatu kebiasaan (baik ataupun buruk) tentu membutuhkan waktu dan usaha. Tapi ketika itu sudah mendarah daging barulah kita merasakan manfaat atau kerugiannya. Karena itu tentukanlah kebiasaan apa yang akan kita kembangkan dalam diri kita hari ini. Apakah kebiasaan baik atau kebiasaan buruk? –DP/www.renunganharian.net

SETIAP KEBIASAAN DIMULAI DARI SATU TINDAKAN YANG BERULANG KALI.
LAKUKANLAH TINDAKAN BAIK SEHINGGA TERBENTUK KEBIASAAN BAIK.