Kaidah Emas

Dalam pemilihan presiden Amerika Serikat pada tahun 1928, salah seorang calon adalah penganut agama minoritas. Banyak orang menyerangnya dengan isu agama. Hebatnya, calon di kubu seberang-Herbert Hoover, yang kemudian menang-bersikap lain. Ia menentang diskriminasi itu. Di benua asalnya, Eropa, leluhurnya dianiaya karena iman mereka. Maka, dalam darahnya mengalir perjuangan membela toleransi beragama, termasuk membela lawan politiknya. Perlakuan yang diharapkannya dari pihak lain, diterapkannya pada siapa saja.

Setelah membahas Taurat Musa secara cerdas, jernih dan kreatif, Tuhan Yesus menyimpulkan pengajaran-Nya dengan sederhana. Dia tahu, akhirnya semua berpulang pada keinginan atau kehendak manusia. Apa yang dimaui manusia? Semua orang ingin diperlakukan dengan baik, adil, penuh hormat dan kasih. Jadi, mengapa bukan itu yang seseorang berikan kepada orang lain? Bukankah ia mengharapkan perlakuan serupa dari mereka? Sederhana. Sayangnya, manusia enggan mempraktikkannya-ibarat melewati jalan yang sempit sesak (ay. 13-14).

Sebenarnya banyak perkara dalam hidup ini layak dihadapi dengan meneropong keinginan kita sendiri. Maukah kita diperlakukan seperti itu? Maukah agama kita dilecehkan? Asal-usul kita dihinakan? Hasil karya kita tak dihargai atau dibajak? Nama baik kita dicemarkan oleh fitnah? Tentu tidak! Lalu, apa yang kita kehendaki? Penghargaan, perlakuan adil, dan kasih sayang, bukan? Maka, mari kita lakukan itu kepada sesama. Itulah hukum emas kehidupan ini! –PAD/www.renunganharian.net

JIKA KITA MAU BERTEMU DI LANDASAN SAMA-SAMA INGIN DIPERLAKUKAN
SEPERTI APA, BANYAK KONFLIK ANTAR MANUSIA TIDAK PERLU ADA.