Jan Paderewski

Jan Paderewski, pianis Polandia, konser di Universitas Stanford, California, AS. Lantaran digelar pada musim liburan, hasil penjualan tiket terbatas. Panitia yang terdiri atas beberapa mahasiswa amat lega karena sang pianis menolak untuk dibayar. Lalu, 27 tahun kemudian, Paderewski, yang saat itu menjadi Perdana Menteri Polandia, berkunjung ke AS dan hendak berterima kasih kepada Herbert Hoover, kepala Badan Penyalur Bantuan Makanan untuk rakyat Eropa seusai Perang Dunia I. Hoover mengingatkan Paderewski akan konser tadi, sambil berkata bahwa dialah yang patut berterima kasih-sebab dirinyalah ketua panitia konser itu.

Petuah dan anjuran kitab Amsal merupakan penjabaran dari hikmat Tuhan dalam kehidupan sehari-hari. Tak jarang polanya amat sederhana. Namun, tetap saja diabaikan manusia. Salah satunya, apa pun yang kita lakukan terhadap orang lain senyatanya adalah wujud dari perlakuan kita terhadap diri sendiri. Entah baik entah buruk, segalanya akan kembali menimpa diri kita dalam aneka bentuk dan melalui pelbagai cara. Bisa datang segera, bisa pula menjadi kejutan sesudah kurun waktu yang lama.

Kebaikan dan kemurahan hati pun tak akan lenyap. Bahkan tak jarang berbuah secara tak terduga berlipat ganda, tak hanya menyentuh kita melainkan juga orang-orang di sekeliling kita. Jangan berhenti bermurah hati sekalipun kini sepertinya hilang tertiup angin. Kebaikan kita terhadap orang lain adalah kebaikan terhadap diri sendiri. Masakan kita enggan melakukannya? –PAD/www.renunganharian.net

KENDATI ORANG LAIN DAN DIRI SENDIRI TELAH MELUPAKAN KEMURAHAN HATI
YANG PERNAH KITA LAKUKAN, TUHAN MENGINGATNYA.