Ingatan Akan Kebaikan-Nya

Seorang istri yang baru saja kehilangan suaminya berkata kepada anak-anaknya: “Kini saat Ayah telah tiada, yang dapat kita lakukan adalah mengingat hal-hal baik yang telah dilakukannya bagi kita. Dengan cara itu ia tetap hidup dalam hati kita.”

Musa yang telah berjalan bersama bangsa Israel berpuluh tahun, sesungguhnya sangat mungkin untuk mengajak bangsa itu mengingat akan apa yang telah dilakukannya sebagai pemimpin mereka. Alih-alih melakukan hal tersebut, Musa mengingatkan mereka untuk tidak melupakan Tuhan dan senantiasa mengingat-Nya dalam segala alur hidup mereka. Musa mengenal watak bangsa yang dipimpinnya berpuluh tahun itu: tegar tengkuk, kerap bersungut-sungut dan mudah mengeluh.

Ia menegaskan bahwa bagi Allah tidak ada siapa pun yang terlalu buruk untuk diselamatkan atau tertinggal di luar kuasa anugerah. Kasih dan kebaikan Allah dapat menyelamatkan “sampai yang paling jauh.” Dosa-dosa kita tak menghalangi kehangatan-Nya untuk menaungi kita karena Ia pengasih (ay. 31), memegang janji-Nya, dan penuh keajaiban (ay. 34). Bahkan sebagai bukti kasih-Nya, Putra-Nya yang tunggal diutus untuk menjadi korban penebus dosa bagi seisi dunia.

Ingatan kita akan kebaikan-Nya, kerinduan kita untuk berseru, memohon ampun dan menyadari kelemahan mampu menggerakkan belas kasih Allah untuk menghampiri serta mengampuni dan menyucikan kita dengan kasih-Nya. Bahkan saat kita tidak layak memperolehnya, kebaikan itu akan tetap menjangkau setiap kita, orang berdosa yang dikasihi-Nya. –YES/www.renunganharian.net

TAK PERLU LARI DAN PERGI, ALLAH BEGITU MUDAH DIHAMPIRI.