Ibu Maria

Pada masa Adven ini, sejenak konsentrasi terarah pada sosok seorang Ibu yang mengandung bayi Yesus, Maria. Apakah yang paling istimewa darinya dan yang membuat dirinya layak dikagumi? Satu yang pasti, penyerahan dirinya. Dengan kata lain, kesediaannya menjawab “ya” pada panggilan Tuhan. Kesediaannya mengaminkan kehendak Allah bagi dirinya. Dalam segala kesederhanaan dan kerendahan hati, Maria mengaminkan perkataan malaikat Gabriel. Ia mengaminkan perannya yang unik penuh misteri itu. Meski risiko cibiran dan kesalahpahaman lingkungan harus dipikulnya, dalam keberserahan ia berkata “ya” kepada Tuhan. Itulah kekuatan terbesar di balik para tokoh pengubah sejarah.

Walau belum ada tanda apa-apa, Nuh disuruh membuat bahtera. Abraham dipanggil keluar dari negerinya. Daud diurapi menjadi raja di usia belia. Kendati bertaruh nyawa, Ester diminta menjadi juru bicara pembela bangsanya di hadapan raja Persia. Mereka semua menjawab “ya” kepada Tuhan. Jawaban ini membuat seseorang berada dalam satu gelombang bersama Tuhan, sebab Dia itu setia pada janji-Nya dan pada-Nya hanya berlaku “ya” dan “Amin” (2Kor. 1:19-20). Siapa dapat menahan kekuatan orang yang sedang mengalir dalam gelombang Allah?

Keluarga membutuhkan orang-orang yang dengan sungguh hati berkata “ya” terhadap komitmen dan perannya. Gereja memerlukan para murid Kristus yang dengan mantap berkata “ya” pada panggilan dan tugasnya. Begitu pun berlaku di mana-mana, entah dalam lingkup sempit maupun luas. Dunia ini membutuhkan sosok-sosok pengubah sejarah yang berani menjawab “ya” pada kehidupan karunia Tuhan ini-seperti Maria. –PAD/www.renunganharian.net

KIAN LENTUR BUSUR, KIAN BESAR KEKUATAN LAJU TERBANG ANAK PANAH-
KIAN TUNDUK BERSERAH, KIAN BESAR KUASA TUHAN BEKERJA DALAM DIRI KITA.