Hidup dalam Rencana-Nya

Saat seseorang lulus kuliah, biasanya ada orang Kristen yang berkata kepadanya: “Akhirnya sebuah rencana Tuhan digenapi dalam hidupmu.” Begitu pula pada saat seseorang mendapatkan pekerjaan, menikah, mempunyai anak, atau berhasil mencetak pencapaian tertentu yang oleh masyarakat pada umumnya identik dengan keberhasilan. Saya kadang jadi bertanya-tanya: Bagaimana jika dropout kuliah? Diberhentikan dari pekerjaan karena krisis? Sakit yang tak kunjung sembuh? Apakah hal-hal itu membuktikan seseorang telah gagal menggenapi rencana Tuhan dalam hidupnya?

Di ayat-ayat yang kita baca, rencana atau rancangan Tuhan identik dengan pembelaan Tuhan bagi orang yang mengalami ketidakadilan, bukan kebahagiaan semata. Kadang Tuhan malah menghajar orang yang dikasihi-Nya (ay. 12), dan pembelaan-Nya akan berlaku bagi orang yang tulus hati (ay. 22-23). Rancangan Tuhan tidak semata-mata ditentukan dari suatu pencapaian tertentu yang secara manusiawi tampak hebat (bdk. Yes. 55:9).

Tinggal di dalam kasih dan anugerah Tuhan akan menolong seseorang untuk memahami rencana Tuhan. Meskipun Tuhan bisa memberkati seseorang dengan keberhasilan, rencana Tuhan tidak sama dengan keberhasilan. Bila hari ini berhasil, besok gagal, rencana Tuhan tetap ada dan bekerja dalam kehidupan seseorang selama orang tersebut membuka hatinya terhadap berbagai kemungkinan yang ada di hari depan. Keberhasilan bukan final, kegagalan bukan fatal. Saat berhasil, tetaplah rendah hati; saat gagal, segeralah bangkit lagi. –SN/www.renunganharian.net

SAAT GAGAL SULIT MENGATAKAN: “TUHAN ITU BAIK.” NAMUN IMAN
MEYAKINI BAHWA KEBAIKAN-NYA ADA DALAM SEGALA SITUASI.