Dari Atas

Ketika anak saya mendiami rumah baru, saya menghadiahinya karya tangan saya sendiri, lukisan seorang ayah menggandeng tangan anaknya terlihat dari sisi belakang. Saya melengkapinya dengan kutipan Mazmur yang menegaskan, sekalipun kita bisa jatuh, tidaklah sampai tergeletak, sebab Tuhan menopang kita dengan tangan-Nya.

Cara pandang Injil Yohanes unik dan konsisten. Selalu mulai “dari Atas”, dari Allah. Berawal dari Firman yang menjadi Manusia (Yoh. 1:1, 14). Gerakannya “dari Atas” kepada kita. Allah mengunjungi, menyatakan diri-Nya, dan mewujudkan kasih-Nya kepada kita. Semua tentang pekerjaan Allah kepada kita di dalam dan melalui Yesus (ay. 25). Keselamatan kita bergantung pada pekerjaan Allah, bukan pada daya upaya kita. Kita boleh mengecap keselamatan yang kekal karena tidak ada yang dapat merebut kita dari tangan-Nya (ay. 28, 29). Semuanya karena Allah. Dari Atas. Anugerah.

Sejujurnya, kita sering dipengaruhi pemikiran “dari bawah”. Kita melakukan banyak hal demi membangun perasaan layak diberkati. Diam-diam dengan tegang dan kencang kita bersaing demi mendapat kasih sayang Tuhan atas dasar penghitungan jasa. Kita menggerutu jika merasa tak menerima apa yang menurut kita pantas kita dapatkan. Seakan-akan semuanya bergantung pada kita. Rileks! Percayalah, Anda dan saya dikasihi-Nya bukan karena perbuatan kita, melainkan perbuatan Yesus bagi kita. Itu karya “dari Atas”. Anugerah-Nya. Terimalah dengan iman, kerendahan hati, dan rasa syukur! –PAD/www.renunganharian.net

KITA SELAMAT BUKAN KARENA KITA BERPEGANG ERAT PADA YESUS,
TETAPI KARENA YESUS MENGGENGGAM KITA BEGITU ERATNYA.-R.C. SPROUL