Burung Pengharapan

Setiap tahun ada lebih dari 10 juta pucuk origami berbentuk burung bangau diletakkan di sekitar patung Sadako Sasaki yang berada di lingkungan Hiroshima Peace Memorial Park. Bangau-bangau kertas itu berkaitan erat dengan harapan Sasaki, korban radiasi nuklir ketika bom atom dijatuhkan ke atas kota itu pada 6 Agustus 1945. Harapan yang harus pupus lantaran kanker darah yang diderita oleh bocah tersebut.

Perang, atas nama apa pun, merupakan salah satu bentuk kutuk mengerikan yang harus dihadapi oleh anak-anak manusia di dunia ini. Banyak jiwa, yang begitu berharga di mata Yesus, melayang pada usia belia. Padahal, bagi anak-anak pulalah Dia bersedia naik ke atas kayu salib untuk menanggung segala kutuk. Salib menjadi jalan pembebasan yang ditempuh Yesus agar anak-anak pun memiliki kesempatan untuk bersentuhan dengan kedamaian. Damai yang sanggup mengenyahkan kegelisahan dan kegentaran hati di tengah dunia yang terus bergejolak (ay. 27).

Roh Kudus menandai jejak kehadiran Sang Raja Damai dalam diri anak-anak. Dia adalah burung pengharapan yang sesungguhnya. Kehadiran-Nya melahirkan seruan tulus anak-anak Tuhan bagi perdamaian dunia. Seruan yang selaras dengan untaian kata yang terpahat pada patung Sasaki: This is our cry, this is our prayer, for building peace in the world (Inilah tangisan kami, inilah doa kami, untuk membangun kedamaian di dunia ini). Marilah, sebagai anak-anak Allah, kita menyatakan damai sejahtera bagi dunia di sekitar kita. –EML/www.renunganharian.net

SERUAN DAN DOA PERDAMAIAN DUNIA AKAN MENJELMA MENJADI KENYATAAN
TATKALA ROH KUDUS HADIR DAN TINGGAL DALAM HATI SETIAP UMAT MANUSIA.