Bukan Saya

Pelatih sepakbola terbaik dunia tahun 2016/2017. Begitu mungkin julukan yang pantas disematkan untuk Zinedine Zidane. Sejak ditunjuk menangani Real Madrid awal tahun 2016, prestasi demi prestasi tim itu tak berhenti mengalir. Dalam karier kepelatihan Zidane yang baru 18 bulan, Real Madrid berhasil menjadi juara Liga Champions Eropa berurutan pada tahun 2016 dan 2017, prestasi yang tidak dapat dilakukan tim lain sejak 1993. Zidane pula yang mengawinkan juara La Liga Spanyol dan Liga Champions Eropa sejak 1958.

Namun, ketika ditanya apakah ia pelatih terbaik dunia, Zidane dengan cepat berkata, “Tidak, tidak. Itu bukan saya.” Suatu kerendahan hati yang luar biasa. Tak heran jika presiden Real Madrid menghormati dan memujinya dengan mengatakan Zidane dapat tinggal dan berkarier di Real Madrid selamanya.

Kita hidup di dunia yang menjunjung tinggi prestasi. Sejak kecil kita dituntut untuk mengejar prestasi setinggi-tingginya, agar dapat hidup dengan nyaman, diakui, dan dihormati. Namun, nas hari ini justru mengingatkan bahwa dasar dari kehormatan bukanlah prestasi, melainkan kerendahan hati. Bukan berarti kita tidak boleh berusaha sekuat tenaga untuk menjadi juara di berbagai bidang yang kita tekuni. Namun, jangan sampai kita mengejar prestasi semata-mata untuk mendapatkan pujian dan kehormatan. Oleh karenanya, waspadalah ketika kita ditawari racun tinggi hati saat meraih keberhasilan. Ingatlah untuk menjawab, “Tidak, tidak. Itu bukan saya.” Sebab tinggi hati mendahului kehancuran. –HC/www.renunganharian.net

KEHORMATAN YANG SESUNGGUHNYA BUKAN DIPEROLEH MELALUI PRESTASI, MELAINKAN MELALUI KERENDAHAN HATI.