BUKAN SALAH BIBIT

Sebagian masyarakat Indonesia percaya akan pentingnya “bibit” seseorang. Bibit merujuk kepada identitas orangtua atau leluhur orang itu. Bila orangtuanya baik, dipercayai si anak akan baik juga kepribadian dan jalan hidupnya. Demikian pula sebaliknya. “Buah jatuh tak jauh dari pohonnya,” kata pepatah. Contoh praktisnya, ketika memilih jodoh, orangtua sering mendorong anaknya untuk melihat siapa orangtua orang yang ditaksirnya.

Tetapi, hubungan antara identitas orangtua dan kepribadian serta jalan hidup seseorang tidak selalu sesederhana itu. Yefta, salah satu hakim Israel yang tercatat dalam Alkitab, salah satu contohnya. Ibunya bukanlah wanita baik-baik, seorang wanita tunasusila. Karena itu, ia dikucilkan dan ditolak oleh saudara tirinya. Tetapi, Tuhan justru memakai Yefta untuk memimpin bangsa Israel pada zamannya, membebaskan Israel, khususnya Gilead, dari penjajahan bangsa Amon.

Memang, orangtua dan keluarga akan ikut membentuk karakter dan cara pandang seseorang. Tetapi, jalan hidup kita ada di tangan Tuhan dan kita sendiri, bukan orangtua kita. Karena itu kalau kita datang dari keluarga yang “kurang baik”, kita punya harapan dan harus berjuang untuk menjalani hidup yang lebih baik dari mereka. Kalau kita dari keluarga yang “baik”, jangan lengah. Demikian pula, jangan kita asumsikan kalau ada rekan atau teman yang dari keluarga “kurang baik”, maka pasti akan berakhir serupa. Justru, bantu mereka untuk keluar dari bayang-bayang kelam tersebut.— ALS

BUAH MEMANG JATUH TAK JAUH DARI POHONNYA, TETAPI KITA BUKAN BUAH,
SEHINGGA KITA BISA HIDUP SECARA BERBEDA DARI “POHON” (KELUARGA) KITA

Sumber : Alison Subiantoro – www.renunganharian.net