Bekerja, Bekerja, dan Bekerja

Manusia adalah homo faber (makhluk yang bekerja). Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, manusia harus bekerja dan berusaha. Manusia purba bekerja dengan berburu, lalu belajar bercocok tanam, dan kemudian menghasilkan barang melalui proses produksi, mulai dari berskala kecil sampai massal. Manusia bekerja untuk mengaktualisasikan diri, sekaligus untuk memenuhi kepuasan batin. Karenanya, bekerja juga memiliki makna spiritual.

Paulus, seorang pemberita Injil, juga bekerja sebagai seorang pembuat tenda. Ia menasihati jemaat Tesalonika supaya mereka giat bekerja. Paulus menjadikan dirinya sendiri sebagai teladan. Paulus tidak mau menjadi beban bagi orang lain dan, karena itu, ia bekerja untuk memenuhi nafkahnya sendiri. Dengan tegas Paulus mengatakan kalau orang tidak mau bekerja, janganlah orang itu makan!

Makna spiritual dari bekerja dapat kita lihat juga dari pertanyaan: “Siapakah Allah bagi kita?” Allah pun terus bekerja, mulai dari menciptakan dan memelihara ciptaan-Nya sampai selama-lamanya. Akhirnya, bekerja bukanlah sekadar untuk aktualisasi diri dan memperoleh nafkah, melainkan juga menyehatkan dan menyejahterakan batin dan kerohanian kita. Bila Allah saja bekerja, kita sebagai ciptaan-Nya pun sepatutnya bekerja. Kita bekerja seperti untuk Tuhan, yaitu bekerja dengan baik, giat, rajin, dapat dipercaya, antusias, berintegritas, tidak gampang menyerah, dan terus bersemangat, serta menghasilkan prestasi kerja yang patut dibanggakan. –AAS/www.renunganharian.net

BEKERJALAH SEPERTI UNTUK TUHAN!
BUKAN SAJA KEBUTUHAN HIDUP TERPENUHI, BATIN PUN MENJADI KAYA.