Asaf

Banyak orang yang takut akan Tuhan mengalami berbagai kesusahan dan ditimpa masalah berat, sebaliknya orang-orang yang tidak peduli dengan Allah sepertinya aman-aman saja, bahkan menikmati berbagai kemujuran. Mengapa demikian?

Asaf, penulis banyak Mazmur, seorang kepala pemimpin pujian yang diangkat Raja Daud (1Taw. 16:5), juga bergumul dengan kenyataan ini. Ia memperhatikan kejayaan orang-orang fasik dengan banyak kemujuran (ay. 3b), sehat-sehat (ay. 4), tidak mengalami kesusahan (ay. 5). Karenanya mereka menjadi sombong dan terus dalam kejahatan mereka (ay. 7-9), bahkan mengira Allah tidak mengetahuinya (ay. 11). Asaf, seorang yang berhati tulus dan mengandalkan Tuhan (ay. 13), mulai ragu akan imannya. Ia merasa kesetiaannya sia-sia belaka (ay. 13), dan ia nyaris tergelincir (ay. 2).

Namun Asaf memutuskan setia dan tetap mencari Allah (ay. 17), serta berpegang kepada-Nya, sekalipun banyak hal tak dipahaminya (ay. 22-23). Ia berserah pada tuntunan Allah yang membawanya pada kemuliaan (ay. 24). Ia sadar bahwa miliknya yang paling berharga adalah Allah yang kekal (ay. 25-26). Ia pun mengerti bahwa situasi “makmur dan mujur” yang mereka alami itu bersifat sementara, suatu jerat, karena mereka ada “di tempat-tempat licin” (ay. 18a), serta akan berakhir dalam kehancuran dan kebinasaan (ay. 18b-20).

Sekalipun kita menghadapi banyak hal sulit yang tidak kita mengerti, seperti Asaf, hal terbaik yang perlu kita lakukan adalah mendekat kepada Allah dan menjadikan-Nya tempat perlindungan kita (ay. 28). –HT/www.renunganharian.net

MARI BERPAUT ERAT PADA ALLAH AGAR
KITA TIDAK TERGELINCIR DI JALAN LICIN KEHIDUPAN.