Aku Berdosa, tetapi …

Semua orang pasti pernah melakukan dosa atau kesalahan. Tetapi ketika mereka menyadari telah berbuat dosa, ada beragam respons yang mungkin muncul. Ada yang mencari kambing hitam alias menyalahkan orang lain. Ada yang menyesali diri dan mengakhiri hidup dalam keputusasaan. Ada yang mengakuinya dan bertobat di hadapan Tuhan-tentu ini adalah yang terbaik. Namun ada juga yang ingin terlihat seolah-olah telah bertobat, padahal sebenarnya tidak demikian.

Raja Saul diperintahkan Tuhan untuk menumpas habis bangsa Amalek, baik orang-orangnya maupun ternaknya. Itu sebagai hukuman atas dosa mereka yang menghalang-halangi bangsa Israel ketika mereka keluar dari Mesir menuju Kanaan. Tetapi atas desakan para prajuritnya, Saul membiarkan raja Amalek hidup serta menyisakan hewan-hewan terbaik untuk dijadikan korban dalam ibadah mereka. Akibatnya, Tuhan menyatakan bahwa Dia telah menolak Saul sebagai raja, karena ia lebih takut kepada manusia daripada kepada-Nya.

Mendengar teguran Samuel, Saul mengakui dosanya. Tetapi ia tidak menyesalinya. Baginya, penghormatan dari manusia lebih penting. Karena itulah ia mendesak Samuel untuk tetap mendampinginya, agar para tua-tua dan umat Israel tetap loyal dan menghormatinya sebagai raja (ay. 30). Ketidaktaatan Saul kepada Tuhan itu terus berlanjut hingga akhir hidupnya. Dan tentu saja, ada akibat yang harus ditanggungnya. Kiranya kita tidak mengikuti jejaknya saat melakukan dosa, melainkan dengan tulus mengakuinya dan berpaling kepada Tuhan. –HT/www.renunganharian.net

PERTOBATAN SEJATI IALAH MENGAKU DOSA DAN MERENDAHKAN DIRI
DI HADAPAN ALLAH TANPA MENCARI HORMAT DARI MANUSIA.